Selasa, 21 November 2017 | 16.44 WIB
Metro24Jam>SainsTek>Tak Berkategori>Manfaatkan Kotoran Kambing, Dosen dan Mahasiswa FMIPA Unimed Buat Pupuk Organik Cair

Manfaatkan Kotoran Kambing, Dosen dan Mahasiswa FMIPA Unimed Buat Pupuk Organik Cair

Minggu, 5 November 2017 - 00:15 WIB

IMG-48

Pupuk Organik cair dari kotoran kambing yang berhasil diproduksi. (ist/metro24jam.com)

MEDAN, metro24jam.com – Dengan memanfaatkan air seni dan kotoran hewan ternak kambing, Dra Anna Juniar MSi, ilmuwan dan Dosen Fakultas MIPA, Universitas Negeri Medan (Unimed), berhasil mengembangkan keilmuannya untuk membantu para petani di Desa Kolam, Jalan Rukun, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang dengan membuat pupuk organik cair bagi tumbuhan, maupun sayuran.

Dalam membantu penelitiannya di tengah pengabdiannya kepada masyarakat, pengajar mata kuliah Kimia ini dibantu oleh 2 rekannya, Drs Bajoka Nainggolan MSi, dosen Jurusan Kimia dan Dr Idramsa MSi, dosen Jurusan Biologi, serta 2 orang mahasiswa, Jonter Siregar dan Josua Manurung.

Ke 3 dosen dan 2 mahasiswa ini membentuk tim pengabdian pada masyarakat dan bekerja sama dengan para peternak kambing di Desa Kolam yang mengatasnamakan ‘Kelompok Peternak Kambing Sejahtera’ diketuai oleh Bapak Arif, kelompok Tani Maju, diketuai Bapak Mesran. Pengabdian masyarakat ini, dilakukan kelimanya selama 6  bulan.

“Saya melakukan eksperimen ini sekaligus sebagai bentuk pengabdian bagi masyarakat, karena penggunakan air seni dan kotoran dari ternak kambing bertujuan memberi solusi kepada mitra Kelompok Ternak Sejahtera dan kelompok tani Maju, Kabupaten Deli Serdang,” kata, Dra Anna Juniar, MSi selaku ketua kegiatan pengabdian masyarakat, kepada wartawan.

Dikatakannya, bahwa untuk memperoleh pupuk organik cair tersebut, dirinya lebih dahulu melakukan penelitian dan eksperimen dengan melakukan beberapa tahap menggunakan beberapa bahan yang terdiri dari;

20 Liter urine kambing yang telah diendapkan selama 7 hari lalu difermentasi dengan 1 kg EM4 dan Molase 3 kg. Camuran itu setiap hari diaduk selama 15 menit selama 7 hari. 

Selanjutnya, menggunakan daun petai cina, daun singkong, akar bambu dan nenas masing-masing 1 kg dihaluskan kemudian difermentasi dengan 1 kg EM4 dan molase 3 kg dan dilakukan seperti perlakuan pada urine hewan Kambing.

“Setelah selesai fermentasi, bahan urin dan bahan daun dicampur. Lalu dipakai untuk disemprotkan ke sayur kangkung, sawi akar, sawi minyak dan bayam yang sudah tumbuh berumur 11 hari. Jadi total pembuatan pupuk itu dari awal bahan baku sampai jadi pupuk organik cair adalah 21 hari,” paparnya.

Usai meracik gabungan bahan tadi, sambungnya, barulah menjadi cairan pupuk organik dan sudah bisa digunakan. Untuk sayuran, Dra Anna menganjurkannya sebaiknya dipakai sore sekira jam 17.00 wib, dengan dosis 150cc per tangki dan dilakukan 1x dalam 3 atau 4 hari.

“Tanggal 12 Juni 2017 penaburan bibit sayur pada tanah yang sudah dikondisikan pH tanah menjadi 5,5 dengan lokasi padat dari tinja kambing yang telah difermentasi juga. Panen tanggal 8 Juli 2017. Jadi ada sekitar 28 hari. Hanya sawi lebih lama yaitu 1 bulan,” jelasnya.

Kegiatan dan Penyuluhan dihadiri Kepala Desa Kolam, Kabupaten Deliserdang dan Ibu Pendamping dari LPM UNIMED. (ist/metro24jam.com)

Mendapat respon positif bagi banyak masyarakat terkhususnya para petani, akhirnya kegiatan tersebut juga berhasil diseminarkan dalam Seminar Nasional Hasil Pengabdian kepada Masyarakat yang dilakukan pada tanggal 15 September 2017 kemarin di Hotel Asean Medan.

Menurutnya, pengembangan keilmuan di tengah masyarakat tersebut adalah salah satu bentuk dari Tridarma Perguruan Tinggi. Dimana seorang dosen bukan saja mengajar, tetapi juga peneliti dan pengabdian pengetahuannya kepada masyarakat.

“Jadi, kita tim dosen memberikan pengetahuan kepada masyarakat pembuatan pupuk organik cair yang berasal dari limbah kotoran kambing dan banyak disekitar peternak yang belum mereka manfaatkan. Sehingga pengetahuan ini kita berikan agar dapat melatih mereka membuat pupuk. Selanjutnya mereka dapat melanjutkan kegiatan ini. Maka, dapat menambah pendapatan pertanian terpadu yaitu; petani dan peternak,” pungkasnya. (vin)


Loading...
KOMENTAR ANDA
Berita Terkini Lainnya
Rp2,6 Juta/Kg! Musang King, Durian Termahal di Dunia
- Kamis, 16 November 2017 - 07:02 WIB

Rp2,6 Juta/Kg! Musang King, Durian Termahal di Dunia

Ini nih, durian termahal di dunia. Namanya Musang King alias Raja Musang. Tak diketahui dengan pasti alasan penamaan tersebut. Mungkin, ...
Populasi Orangutan Liar di Kalimantan Turun 25 Persen
- Senin, 13 November 2017 - 17:22 WIB

Populasi Orangutan Liar di Kalimantan Turun 25 Persen

Penyusutan hutan, konflik dan perburuan liar serta perubahan iklim merupakan penyebab utama menurunnya populasi orangutan di Kalimantan hingga 25% dalam ...
Peringatan Bagi Wanita! Alkohol Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
- Kamis, 9 November 2017 - 11:32 WIB

Peringatan Bagi Wanita! Alkohol Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Tidak setiap hari, sekelompok dokter kanker terkemuka di satu negara meminta orang agar mengekang kebiasaan minum alkohol.Dalam sebuah pernyataan yang ...
Sudah Teruji, Anak Negeri Temukan Obat Berkhasiat untuk Segala Jenis Penyakit Kronis
- Minggu, 5 November 2017 - 12:05 WIB

Sudah Teruji, Anak Negeri Temukan Obat Berkhasiat untuk Segala Jenis Penyakit Kronis

Kemajuan di berbagai bidang teknologi kini merambah ke Indonesia. Salah satunya perkembangan di bidang kesehatan. Salah satu temuan anak bangsa ...
Apa Saja yang Ada dalam iPhone X, Ini Rahasianya!
- Sabtu, 4 November 2017 - 14:16 WIB

Apa Saja yang Ada dalam iPhone X, Ini Rahasianya!

Mempreteli ponsel baru seharga US$999 (± Rp 13,5 juta) mungkin tampak sebagai ide bodoh. Tapi pembongkaran pertama dari iPhone X ...
Perkenalkan! Ini Orangutan Batak, Kakak Tertua Semua Orangutan
- Jumat, 3 November 2017 - 15:24 WIB

Perkenalkan! Ini Orangutan Batak, Kakak Tertua Semua Orangutan

Para ilmuwan baru saja mengungkapkan bahwa ternyata ada tiga spesies orangutan, bukan hanya dua, seperti yang diketahui sebelumnya. Dan temuan ...