Rabu, 26 September 2018 | 08.47 WIB
Metro24Jam>SainsTek>Tak Berkategori>4 Mitos Menyesatkan Soal Makanan Organik dan Hasil Rekayasa Genetik

4 Mitos Menyesatkan Soal Makanan Organik dan Hasil Rekayasa Genetik

Selasa, 13 Februari 2018 - 16:38 WIB

IMG-115

Makanan organik (Wellandgood)

AUSTRALIA, metro24jam.com – Bagi sebagian konsumen, berbelanja di supermarket kadang harus dilakukan dengan membuat keputusan luar biasa.

Setelah debat panjang di lorong belanjaan, dan mencoba mencari tahu melalui kemasan yang mungkin, pada akhirnya Anda akan memilih tomat organik dibanding hasil pertanian konvensional. Dan itu harganya dua kali lipat. Apakah memang itu lebih baik?

Tentu saja tidak sesederhana itu. Selebriti, kelompok anti-transgenik, dan tren kuliner telah menyebarkan informasi dan mitos menyesatkan tentang makanan yang kita pilih setiap hari.

Apakah makanan berlabel ‘Organik’ akan membuat kita lebih sehat? Apakah makanan itu benar-benar bebas pestisida, atau haruskah kita takut terhadap pestisida?

Baru-baru ini, penyanyi/aktris Zooey Deschanel menjadi berita utama setelah serial dokumentasinya tentang makanan organik, Your Food’s Roots, memberikan informasi yang dianggap menyesatkan.

Dalam sebuah video yang viral di Facebook baru-baru ini, Deschanel mengklaim bahwa setiap orang harus menghilangkan 12 macam sayuran dan buah-buahan yang paling mungkin memiliki jumlah tetap residu pestisida, agar tubuh selalu sehat.

Daftar yang dijuluki “Dirty Dozen” (Selusin Kotor) itu, disebutkan merupakan hasil penelitian oleh Environmental Working Group (EWG), sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada advokasi dan penelitian kesehatan.

Namun, klaim itu akhirnya dinyatakan tidak sesuai dengan konsensus komunitas ilmiah.

Ahli toksikologi (racun) sebenarnya sudah lama mendiskreditkan setiap efek buruk dari makanan yang ada dalam daftar itu–79 persen anggota Society of Toxicology mengatakan bahwa EWG hanya melebih-lebihkan risiko kesehatan bahan kimia, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh George Mason University pada 2009.

Pada tahun 2016, Aliansi untuk Pangan dan Pertanian, sebuah lembaga nirlaba yang mewakili petani organik dan konvensional, mengulang seruan kepada EWG untuk mempertimbangkan pedoman USDA sebelum memperbarui daftar “Selusin Kotor” nya, dengan alasan bahwa produk tersebut telah berulang kali dinyatakan dan tidak memiliki dampak negatif terhadap kesehatan.

Yang lebih memprihatinkan, Deschanel mendesak konsumen agar hanya membeli makanan organik, untuk menghindari pestisida. Dan itu adalah saran buruk dari penalaran yang salah.

Banyak penelitian menunjukkan, bahwa lantaran diberi label “organik”, bukan berarti tanaman tidak menggunakan pestisida.

Bagaimanapun para ilmuwan mencatat, bahwa membatasi konsumsi buah dan sayuran karena takut penggunaan pestisida, bisa berakibat jauh lebih buruk bagi kesehatan konsumen dibanding secara tidak sengaja mengkonsumsi sedikit pestisida.

“Kekhawatiran terbesar saya adalah bahwa banyak laporan ini dapat menghasilkan efek negatif. Karena hal itu dapat membuat orang tidak mengkonsumsi buah dan sayuran sehat meski diproduksi secara kurang sehat,” kata Carl Winter, ahli toksikologi makanan di University of California Davis dan anggota Institute of Food Technologists, kepada Futurism, seperti dikutip ScienceAlert.

“Ketika semua orang ingin melakukan apa yang didengar adalah sesuatu yang benar, mereka bisa melakukan tindakan yang lebih berbahaya,” sambung Winter.

Untuk lebih jelasnya, coba kita simak empat mitos salah yang selalu disebut tentang makanan hasil transgenik (rekayasa genetika) dan organik, agar tidak salah dalam memahami apa yang dikatakan sains (ilmu pengetahuan) untuk membantu konsumen.

Mitos 1: Makanan organik lebih aman karena tidak tersentuh pestisida

Di toko bahan makanan, konsumen diberi pilihan untuk membeli makanan yang diproduksi secara konvensional atau organik (yang biasanya lebih mahal). Perbedaan antara kedua pilihan ini sebenarnya sudah diatur secara ketat.

Bagi produsen makanan, agar bisa melabeli barang mereka sebagai produk organik, produk harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh organisasi dan pemerintah.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyatakan makanan sebagai “organik” jika terbukti, melindungi sumber daya alam, melestarikan keanekaragaman hayati dan hanya menggunakan zat yang disetujui.

Selain itu, di AS dan Kanada, makanan berlabel “organik” harus tanpa transgenik.

Makanan organik, menurut definisi tersebut, tidak menggunakan pupuk sintetis atau pestisida yang diaplikasikan pada tanaman selama tiga tahun sebelum dipanen. Tapi, bukan karena tanaman telah sesuai dengan definisi organik tersebut, berarti sudah bebas dari residu pupuk.

Sertifikasi organik USDA mengizinkan zat alami seperti feromon, vaksin hewan, dan sejumlah pestisida alami. Namun, survei tahun 2011 oleh USDA menunjukkan 39 persen dari 571 sampel organik, masih terdapat residu pestisida, meski dalam jumlah yang cukup jauh dari ambang batas yang ditetapkan EPA.

Namun, survei tren pasar oleh Whole Foods pada tahun 2005 menemukan, bahwa lebih dari 70 persen konsumen membeli makanan organik hanya untuk menghindari pestisida.

Mengkonsumsi sedikit pestisida belum tentu beracun bagi manusia. “Pertanyaan besar dari sudut toksikologi adalah, berapa banyak [pestisida] yang kita hadapi? Prinsip pertama toksikologi adalah dosis yang [menyebabkan] keracunan,” kata Winter.

Sementara, penelitian telah menunjukkan bahwa makanan konvensional dan non-organik memang hadir dengan kemungkinan lebih besar mengandung residu pestisida dibanding organik. Namun demikian, risiko kesehatan dari paparan pestisida seringkali dilebih-lebihkan oleh organisasi seperti EWG dan asosiasi keamanan makanan.

“Tingkat yang kita hadapi sangat jauh lebih rendah dari tingkat yang diharapkan dapat menyebabkan kerugian bagi populasi. Jadi, mengurangi paparan lebih sedikit–dalam hal ini dengan membeli makanan organik–sebenarnya tidak akan memberi manfaat kesehatan yang lebih banyak bagi kita sebagai konsumen,” imbuh Winter.

Namun, itu bukan berarti pestisida tidak menimbulkan risiko sama sekali. Sejak tahun 1930-an, pestisida sintetis yang paling terkenal, DDT, dikaitkan dengan cacat lahir dan keanekaragaman hayati.

Orang yang bekerja di ladang dan menghabiskan sebagian besar waktu terkena pestisida, sering dirawat di rumah sakit karena penyakit terkait. Pada tahun 2006 di Negara Bagian California, sebanyak 1.310 orang dirawat di rumah sakit akibat penyakit dan luka terkait pestisida, dan 23 di antaranya meninggal dunia.

Saat ini, para ilmuwan masih berusaha memahami bagaimana dosis tinggi pestisida dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak.

Sedikit dari ini berlaku untuk konsumen rata-rata. Pertama, petani hari ini menggunakan lebih sedikit pestisida dibanding satu dekade lalu, dan pestisida itu sendiri harus terbukti berdampak rendah pada kesehatan manusia, sesuai aturan ketat USDA.

Meskipun dosis tinggi dari pestisida ini dapat menimbulkan risiko kesehatan, sisa residu yang masuk ke makanan kita, terbukti tidak berpengaruh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, bahwa tidak satu pun dari pestisida yang saat ini diizinkan dalam perdagangan pangan internasional, merusak manusia pada tingkat genetik, dan hanya menjadi berbahaya bagi pekerja yang secara langsung terpapar pada jumlah yang jauh lebih tinggi di lapangan.

“Dari sudut pandang konsumen, tingkat paparan kita sangat rendah,” kata Winter.

Tapi, bukan berarti petani hanya bisa mempergunakan zat-zat kimia itu sesuka hati. “Saya tidak di sini untuk mengatakan pestisida tidak bermasalah dan kita tidak perlu khawatir akan hal itu. Kita hanya perlu mengaturnya,” sambung Winter lagi.

Mitos 2: Makanan organik lebih sehat

Sejak pemerintah AS mulai mengatur produk organik pada tahun 1990, para pendukung mengklaim, bahwa mengonsumsi makanan organik membuat kita lebih sehat. Klaim yang sulit dipecahkan itu, pada akhirnya menyesatkan.

Saat membandingkan apel organik dan konvensional, tidak terbukti bahwa buah organik membuat orang lebih sehat.

Hasil analisis dari 240 studi tentang nilai gizi makanan organik, penulis studi tinjauan pada tahun 2012, yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menyimpulkan bahwa, tidak ada bukti kuat bahwa makanan organik secara signifikan lebih bergizi dibanding makanan konvensional.

Meski begitu, para peneliti menyimpulkan, bahwa mengonsumsi makanan organik dapat mengurangi paparan terhadap residu pestisida dan kemungkinan menelan bakteri resisten antibiotik.

Tapi menentukan apa yang membuat konsumen dikatakan ‘sehat’ atau ‘lebih sehat’ dibanding orang lain–hanya dengan mengonsumsi makanan organik–metidak memiliki indikator yang jelas.

Nutrisi tambahan mungkin baik untuk kita. Tapi, apakah itu berarti kita membutuhkannya agar sehat? Atau kita akan baik-baik saja tanpa zat tambahan tersebut?

Studi tinjauan pada 2016 yang dipublikasikan oleh British Journal of Nutrition menganalisis 170 penelitian, menyimpulkan bahwa, susu dan daging organik memiliki tingkat omega-3 yang lebih tinggi dibanding daging dan susu konvensional.

Meski omega-3 yang lebih banyak terbukti bagus untuk kita, tapi bukan berarti dengan membayar lebih untuk susu dan daging organik, maka daging dan susu konvensional tidak mengandung omega-3.

Mitos 3: GMO (Genetically Modified Organisms) berbahaya dimakan

Kemampuan untuk mengubah susunan genetika tanaman telah menjadi topik perdebatan sengit selama beberapa dekade. Organisme hasil rekayasa genetika (GMO)–tanaman dengan gen yang telah ditambah dengan DNA dari organisme lain—telah mengubah secara permanen industri pertanian.

Makanan hasil rekayasa genetik. (Sheknows)

Para ilmuwan telah menciptakan varietas tanaman rekayasa genetika (GE) yang mengandung gen yang melindunginya dari hama, gulma atau bahkan virus tertentu.

Meskipun GMO pertama kali baru memasuki pasar pada 23 tahun lalu, perdebatan seputar keamanan jenis makanan itu masih terus terjadi, dipicu oleh kesalahan informasi mengenai dampak yang dikatakan bisa mempengaruhi kesehatan.

Tanaman hasil rekayasa genetika memungkinkan ilmuwan untuk mentransfer sifat yang diinginkan secara individual, suatu proses yang jauh lebih efisien dibanding persilangan–metode teknologi yang juga dapat mentransfer sejumlah sifat–sehingga bisa menimbulkan ancaman bagi tanaman yang baru.

Perkawinan silang juga membatasi sifat individu baru dengan ciri-ciri yang sudah ada pada tanaman jantan atau betina. Sementara rekayasa genetika, memungkinkan ilmuwan menggunakan sifat asing, namun diinginkan.

GMO juga tidak terbatas pada penggunaan ‘tidak wajar’, yang direkayasa secara sintetis–karena dapat juga memanfaatkan proses alami.

Sebagai contoh, bakteri Bacillus thuringiensis (Bt), sudah diketahui sebagai insektisida alami selama lebih dari 100 tahun lalu.

Baru-baru ini, ahli bioteknologi telah memodifikasi gen tanaman seperti jagung, agar mengekspresikan protein insektisida yang ada dalam mikroorganisme alami ini, sehingga tidak perlu lagi secara fisik menyemprot tanaman.

Alhasil, tanaman itu sendiri sudah menjadi musuh bagi serangga, dan ladang serta ekosistem di sekitarnya, sebagian besar tidak akan terpengaruh.

Ketakutan akan transgenik dan dampaknya terhadap kesehatan, memberi konsumen alasan lain untuk tetap berpegang pada tanaman organik.

Uni Eropa melarang petani menanam GMO dan negara-negara lain seperti India telah menarik diri dalam penanaman GMO, menyusul reaksi keras yang didapat. Di AS, produk GMO akan butuh undang-undang federal agar diberi label seperti itu.

Tindakan pencegahan ini, bagaimanapun, sangat tidak berdasar. Sampai saat ini, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa makanan GMO menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia.

Jika pun ada, modifikasi genetik terbukti membuat tanaman lebih aman untuk pekerja pertanian (membuat tanaman lebih tahan terhadap kerusakan serangga dan infeksi virus, sehingga tanaman memerlukan lebih sedikit pestisida) dan bahkan membuatnya lebih bergizi serta menghasilkan varietas yang sehat bagi banyak orang di seluruh dunia.

Menurut WHO, tidak ada makanan yang tersedia saat ini yang berasal dari tanaman hasil rekayasa genetik terbukti memiliki efek negatif pada kesehatan manusia di negara-negara yang telah mengizinkannya.

“Saya belum melihat bukti yang menunjukkan bahwa tanaman GM lebih berbahaya daripada tanaman konvensional,” kata Winter.

Jadi, mengapa mitos anti-GMO bertahan? Sekelompok ahli bioteknologi dan filosofi dari Universitas Ghent berhipotesis bahwa penggambaran negatif GMO cukup menarik secara intuitif.

Gagasan mengenalkan gen asing ke dalam makanan kita, menurut para periset, ditengarai karakteristik organisme yang tampaknya tidak alami, dan tindakan ilmuwan (memodifikasi gen tanaman) sering dituduh melampaui batas dengan ‘menjadi Tuhan’.

Meski begitu, walau sejauh ini GMO belum terbukti membahayakan konsumen, bukan berarti tidak akan pernah sama sekali.

“Tidak ada bukti dampak berbahaya dari memakan tanaman hasil rekayasa genetika yang tumbuh dewasa ini. Tapi saya tidak dapat mengatakan hal sama terhadap hasil panen sepuluh tahun mendatang,” kata Gregory Jaffe, Direktur Bioteknologi Pusat Ilmu Pengetahuan untuk Kepentingan Umum (CSPI), kepada Futurisme.

Pengaturan keamanan makanan, kemudian, akan menjadi lebih penting lagi karena alat modifikasi genetika baru seperti CRISPR menjadi lebih awam.

“Regulator perlu menerapkan pendekatan kasus per kasus untuk memastikan keamanan konsumen dan produsen sama dengan tanaman rekayasa genetika,” kata Jaffe.

Mitos 4: GMO buruk bagi lingkungan

Orang yang menentang GMO sering mencatat dampak konkretnya terhadap lingkungan. Mereka khawatir bahwa modifikasi genetik bisa berpindah dari peternakan ke lingkungan alam yang lebih besar, atau tanaman transgenik akan menekan keanekaragaman hayati suatu daerah.

Yang terbaru, mereka mencatat bahwa GMO menuntut penggunaan herbisida yang lebih besar, sehingga akan mengurangi keanekaragaman hayati dan membuat gulma lebih tahan terhadap bahan kimia.

Kritik-kritik ini memang sedikit ada benarnya. Modifikasi genetik telah melampaui panen dari varietas lokal, walaupun jarang, dan para petani sangat tergantung pada jenis tanaman sama, yang membuatnya lebih rentan terhadap penyakit.

Suatu studi pada tahun 2016 menemukan bahwa, petani yang memanen kedelai hasil rekayasa genetika menggunakan lebih banyak herbisida dibanding petani yang tidak menanam GMO. Periset mengakui, bahwa kita masih harus banyak belajar tentang dampak lingkungan dari transgenik.Tapi secara keseluruhan, transgenik tidak menyebabkan kerusakan sebanyak yang diperkirakan.

Studi 2016 yang sama menemukan, bahwa GMO benar-benar mengurangi jumlah pestisida yang dibutuhkan untuk meningkatkan panen jagung, dibanding dengan tanaman yang tidak menggunakan GMO.

Studi lain di tahun 2014 menemukan bahwa tanaman hasil rekayasa genetika memiliki hasil 22 persen lebih banyak daripada varietas non-GM.

Panen lebih banyak per meter persegi, artinya lebih sedikit lahan pertanian yang dibutuhkan di seluruh dunia. Sehingga lebih banyak habitat yang tidak terganggu atau mengalokasikan lebih banyak lahan untuk cadangan alam maupun koridor satwa liar.

Selain itu, banyak tanaman transgenik membutuhkan lebih sedikit air dibanding varietas organik atau non-GM.

Ilmuwan masih belum sepenuhnya yakin apakah GMO lebih baik untuk lingkungan dibanding jenis tanaman lainnya. Tapi setidaknya, jenis itu menggunakan sumber daya lebih sedikit daripada tanaman organik.

Pada era akhir zaman ini, makanan organik bukanlah pilihan yang buruk. Demikian juga GMO. Tapi konsumen harus membuat pilihan makanan mereka berdasarkan sains, bukan gosip semata.

Banyak mitos bertahan seputar risiko transgenik dan manfaat makanan organik. Tapi satu hal yang jelas: makan buah dan sayuran adalah hal yang paling penting, tak peduli apakah itu berasal dari tumbuhan organik atau transgenik. (sci/asp)


Loading...
KOMENTAR ANDA
Berita Terkini Lainnya
Penampakan COSMO AzTEC-1, Nenek Moyang Galaksi Sejagat, Jaraknya 12,4 Miliar Tahun Cahaya dari Bimasakti
- Kamis, 30 Agustus 2018 - 13:02 WIB

Penampakan COSMO AzTEC-1, Nenek Moyang Galaksi Sejagat, Jaraknya 12,4 Miliar Tahun Cahaya dari Bimasakti

Astronom berhasil merekam gambar paling tajam dari 'galaksi monster' yang mampu melahirkan bintang baru 1.000 kali lebih cepat daripada Bimasakti. ...
Ini Varietas Unggul Cabai Tahan Hama Virus Belang Hasil Riset Biolitbangtan
- Kamis, 12 Juli 2018 - 14:00 WIB

Ini Varietas Unggul Cabai Tahan Hama Virus Belang Hasil Riset Biolitbangtan

Cabai sebagai salah satu dari tujuh komoditas pangan stategis, memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Fluktuasi harganya dapat mempengaruhi inflasi. ...
Balitbangtan Lepas Kedelai Hasil Tinggi Berbiji Besar Biosoy 1 dan Biosoy 2
- Selasa, 3 Juli 2018 - 13:49 WIB

Balitbangtan Lepas Kedelai Hasil Tinggi Berbiji Besar Biosoy 1 dan Biosoy 2

Kedelai merupakan sumber protein nabati paling popular dengan kandungan protein yang tinggi (36-43%) bagi masyarakat Indonesia. Konsumsi utamanya dalam bentuk ...
Huawei Nova Lite 2, Tawarkan Pengalaman Baru dengan Layar FullView
- Rabu, 9 Mei 2018 - 16:04 WIB

Huawei Nova Lite 2, Tawarkan Pengalaman Baru dengan Layar FullView

Huawei kembali meluncurkan brand terbarunya. Huawei Nova Lite yang diciptakan untuk pengguna milenial yang menampilkan layar FullView dengan desain elegan ...
Artis Ini Minum 27 Gelas Air Sehari, Apa Itu Cocok Untuk Anda? Simak Penjelasan Para Ahli!
- Selasa, 1 Mei 2018 - 08:18 WIB

Artis Ini Minum 27 Gelas Air Sehari, Apa Itu Cocok Untuk Anda? Simak Penjelasan Para Ahli!

Bintang Riverdale, Madelaine Petsch, mengungkapkan, bahwa dia minum 27 cangkir air sehari untuk menjaga tubuhnya tetap langsing.Vegetarian beruaia 23 tahun ...
Keren…! Smart Watch Ini Proyeksikan Layar Sentuh di Lengan
- Selasa, 1 Mei 2018 - 07:34 WIB

Keren…! Smart Watch Ini Proyeksikan Layar Sentuh di Lengan

Ilmuwan dan peneliti di Carnegie Mellon, Pittsburgh, Pennsylvania, telah mengembangkan jam tangan pintar pertama yang membuat lengan pemakainya sebagai layar ...